Padi (bagian 2): Keanekaragaman Budidaya Padi

Keanekaragaman Budidaya Padi

Padi Gogo

Di beberapa daerah tadah hujan orang mengembangkan padi gogo, salah satu tipe padi lahan kering yang relatif toleran tanpa penggenangan air seperti di sawah. Wilayah Lombok mengembangkan sistem padi gogo rancah, yang memberikan penggenangan dalam selang waktu tertentu sehingga hasil padi meningkat.

Pengolahan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Gogo

1. Penyiapan lahan

Pengolahan tanah dilakukan pada musim kemarau menjelang datangnya musim hujan.• Pengolahan tanah diperlukan untuk menciptakan kondisi tumbuh yang baik. Pada tanah datar sampai kemiringan kurang dari 5%, pengolahan tanah dicangkul (bajak) 2 kali dan satu kali garu.• Pada lahan dengan kemiringan lebih dari 15%, pengolahan tanah sederhana (minimum tillage) atau tanpa olah tanah (TOT).

2. Pemilihan varietas

Pemilihan varietas padi gogo didasarkan pada : 1) kesesuaian terhadap lingkungan tumbuh (ketinggian dan iklim), 2) umur tanaman berkaitan dengan curah hujan dan pola tanam, 3) ketahanan hama penyakit dan 4) produktivitas.• Pilihan varietas adalah: situ gintung, gajah mungkur, kalimutu, way rarem, jatiluhur, cirata,towuti, limboto, danau gaung, batu tegi, situ patenggang dan situ bagendit.

3. Tanam

Penanaman dilakukan pada awal musim hujan (Oktober – November) bila terdapat 1 – 3 hari hujan berturut-turut dengan curah hujan 21 mm/minggu. • Tanam sistim alur, lahan yang telah dipersiapkan dibuat alur sedalam 3-4 cm dengan jarak antara alur 20-25 cm. Benih disebar secara diicir, kemudian alur ditutup kembali dengan tanah.• Sistem tanaman tugal dengan kedalaman 3-5 cm dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm, kemudian 2 – 3 butir benih dimasukkan ke dalam setiap lubang tanam dan ditutup kembali dengan tanah.• Kebutuhan benih 30 – 50 kg/ha.• Apabila kelembaban tanah cukup, benih sebaiknya direndam sekitar 24 jam

4. Pemupukan

Dosis pupuk yang diberikan disesuaikan dengan tingkat kesuburan tanah.• Dosis pupuk N berkisar 300-400 kg urea/ha yang diberikan 2 atau 3 kali, yaitu 1/3 bagian pada pada umur 15 hari, 1/3 bagian pada stadia anakan ( 30-40 hari setelah sebar), 1/3 bagian pada saat menjelang primordia (50-60 hari setelah sebar) atau 1/3 bagian pada stadia anakan dan 2/3 bagian pada saat menjelang primordia.• Pupuk Fosfor (P) dan Kalium (K) diberikan pada saat tanam, dengan dosis 100-150 kg SP-36/ha dan 100 kg KCI/ha.• Pupuk kandang dengan dosis sekitar 5 ton/ha, diberikan pada saat pengolahan tanah

5. Pengendalian gulma

Penyiangan dilakukan seawal mungkin.• Penyiangan pertama dilakukan pada umur 14-21 hari setelah sebar (HSS) dan penyiangan kedua pada umur 35-40 HSS.• Penyiangan secara manual menggunakan cangkul atau kored, bila memungkinkan penyiangan dapat dibantu dengan penyemprotan herbisida (propanil).

6. Pengendalian Hama dan Penyakit

Beberapa hama dan penyakit utama yang menganggu pertanaman padi gogo, antara lain: blast, bercak daun, lalat bibit, tundi, wereng coklat, dan walang sangit. Penyakit blast disebabkan oleh jamur (Pyricularia oryzae), gejala serangan adalah bercak daun berbentuk belah ketupat, menyerang buku-buku dan malai, sehingga terjadi patah, batang atau busuk malai, pengendaliannya adalah sebagai berikut:• Pemupukan berimbang, hindarkan pemupukan N yang berlebihan, pupuk K dapat mengurangi keparahan serangan penyakit.• Menanan varietas toleran • Menggunakan fungisida

7. Panen dan Penanganan Hasil

Pemanenan tanaman dilakukan bila gabah telah menguning sekitar 90% atau pada umur 30-35 hari setelah berbunga tergantung varietas. • Perontokan menggunaaan alat perontok, minimal pedal tresher sederhana. Diusahakan kehilangan hasi sekecil mungkin dengan cara pengumpulan batang padi segera setelah disabit, pengangkutan dan tempat penyimpanan yang baik.• Gabah disimpan pada kadar air + 12 % (bila gabah digigit terasa keras dan berbunyi) dengan menggunakan wadah yang bersih dan bersih dan bebas hama.• Untuk mendapatkan mutu giling dan rendemen beras yang baik, diusahakan: (1) gabah harus seragam dan bersih, (2) gabah yang baru dikeringkan harus diangin-anginkan agar beras tidak pecah dan (3) sebelum digiling beras yang baru disimpan harus dijemur untuk menyeragamkan kadar airnya.

 

Padi Rawa

Padi rawa atau padi pasang surut tumbuh liar atau dibudidayakan di daerah rawa-rawa. Selain di Kalimantan, padi tipe ini ditemukan di lembah Sungai Gangga. Padi rawa mampu membentuk batang yang panjang sehingga dapat mengikuti perubahan kedalaman air yang ekstrem musiman.

Padi Rawa, Potensi Pengembangan Padi yang Menjanjikan

Pengembangan budi daya padi di lahan non irigasi perluditingkatkan. Lahan rawa merupakan salah satu lahannon irigasi yang berpotensi untuk dikembangkanterutama dengan komoditas padi. Lahan rawa diIndonesia tersebar pada empat pulau besar, yaituSumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Lahanrawa terdiri dari lahan pasang surut dan lahan lebak.Pemanfaatan lahan rawa pasang surut dan lebakuntuk usaha tani padi membutuhkan ketersediaanvarietas unggul yang mampu beradaptasi dengan baikpada lahan tersebut. Kendala utama peningkatanproduksi padi di lahan lebak adalah tata air.

Bila memasuki musim hujan, kondisi lahan lebak selalu tergenangair. Kedalaman genangan air sangat bervariasi, mulaidari beberapa cm hingga lebih dari satu meter. Kondisisebaliknya terjadi saat lahan lebak memasuki musimkemarau. Kendala lain yang dihadapi adalah kesuburantanah rendah, kemasaman tanah, keracunan dandefisiensi hara.Pengembangan budi daya padi juga menghadapihambatan berupa perubahan iklim global. Perubahan iklimglobal mengakibatkan adanya pergeseran musim sertaterjadinya iklim yang ekstrim, seperti terjadi kekeringandan kebanjiran. Untuk itu diperlukan varietas padi yangtoleran terhadap kondisi iklim yang ekstrim tersebut.Inovasi teknologi Varietas Unggul Baru (VUB) untukantisipasi perubahan iklim antara lain Inpara 1 sampaidengan Inpara 5. Untuk informasi Inpara lebih jelas klik link ini.

Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) merupakan cara pendekatan yang bersifat holistik sehingga dapat meningkatkan produktivitas maupun pendapatan petani karena lebih efektif dan lebih efisien serta sifatnya lumintu.

Pendekatan PTT

1. Memanfaatkan paket teknologi anjuran yang terdiri dari komponen komponen teknologi yang sinergis dan kompatibel sesamanya sehingga kalau diterapkan bisa lebih efisien dan lebih efektif untuk meningkatkan produksi padi rawa pasang surut

2. Pemilihan dan penerapan teknologi didasarkan pada pemecahan permasalahan setempat yang sedang dihadapi petani

3. Dengan PTT, input teknologi lebih efisien dalam peningkatan produksi padi sehingga pendapatan dan kesejahteraan petani bertambah

4. Kelestarian lingkungan lebih lumintu karena teknologi yang diterapkan lebih terkendali sehingga lebih ramah lingkungan.

Komponen Teknologi PTT

Berbeda halnya dengan sawah lahan irigasi, sawah lahan pasang surut mempunyai masalah yang sangat kompleks , sehingga keragaan pertumbuhan tanaman padi juga beraneka ragam, misalnya : daun padi mempunyai bercak kecil berwarna coklat (bercak karat) yang dimulai dari ujung daun, pertumbuhan dan pembentukan anakan tertekan, daun meruncing dan berwarna hijau gelap, perakaran kasar, jarang dan berwarna coklat gelap dan hasil padi rendah.

 

Diolah dari berbagai sumber


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: