RisTek

Dulu ane sering kepikiran kenapa jarang orang Indonesia yang mau tekun meneliti sesuatu hingga menghasilkan produk, nggak kayak orang2 barat yang juga terlihat dari movie2 barat itu. Ane pun dapet jawabannya tanpa perlu berlama2: karena pemerintah Indonesia nggak membuka dana untuk penelitian yang terbuka bagi seluruh warga negara Indonesia + nggak banyak lembaga2 nonpemerintah (yang biasanya disebut swasta) yang menyediakan dana penelitian bagi masyarakat umum. Di sisi lain memang SDM Indonesia sedikit banget yang mau tekun meneliti sesuatu yang fokus hingga menghasilkan produk nyata. Padahal Indonesia ini kaya lho, buktinya tuh banyak yang korupsi, masing2 dapet banyak lagi. Tuh bukti klo Indonesia kaya.

Hanya segelintir mahasiswa dan profesional (akademisi, peneliti, pengajar) yang tekun melakukan penelitian hingga menemukan kesimpulan bahkan produk, karena memang pendanaan penelitian sejauh ini masih berputar di dunia akademisi. Di barat itu kan terbuka lebar dana untuk penelitian baik dari pemerintah (yang biasa disebut negeri) dan nonpemerintah (yang biasa disebut swasta), baik ditujukan buat pelajar, mahasiswa, profesional, jurnalis, maupun masyarakat umum, lepas dari penelitian itu nanti pastinya sukses. Mereka banyak juga yang gagal, dan itu nggak masalah, baik bagi peneliti maupun lembaga yang membiayai (tinggal prosedurnya kayak apa dulu). Gagal-sukses dalam penelitian bagi mereka biasa.

Pertanyaan ane: Apakah mental orang Indonesia “takut gagal” itu sedemikian kuat hingga pemerintah dan swasta nggak banyak yang mau menyediakan dana penelitian + warga negara Indonesia sebagian besar nggak ada minat untuk penelitian di berbagai bidang?

Jawabannya: Yes, it’s very possible

Ada artikel pendukung pikiran ane tersebut ini nih belum lama:

Anggaran Penelitian Perguruan Tinggi Indonesia Masih Rendah

Kamis, 17/02/2011 – 17:57BANDUNG, (PRLM).- Meski anggaran dana penelitian setiap tahun terus mengalami peningkatan, namun jika dilihat dari angka ideal, anggaran penelitian di perguruan tinggi Indonesia masih jauh dari harapan. Bahkan jika dibandingkan dengan anggaran penelitian di negara lain, anggaran penelitian perguruan tinggi di Indonesia masih jauh tertinggal.
“Institut Teknologi Bandung termasuk yang paling besar dana penelitian per tahunnya, yakni mencapai Rp 70 hingga Rp 90 miliar. Itu untuk riset murni, tidak digabung dengan riset kerjasama dan penelitian lainnya,” kata Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi ITB Wawan Gunawan A. Kadir yang ditemui di sela-sela Pameran Hasil Penelitian ITB 2011 di Aula Timur Kampus ITB, Jln. Ganesa Bandung, Kamis (17/2).
Jika dihitung secara keseluruhan, kata Wawan, jumlah dana penelitian ITB mencapai angka Rp 350 miliar per tahun. Mayoritas merupakan riset kerjasama dengan sejumlah perusahaan dan industri. “Misalnya perusahaan minyak A ingin mengembangkan teknologi tertentu. Mereka meminta kami yang melaksanakan. Sementara kalau riset murni itu adalah riset yang didanai oleh ITB atau Dikti. Bukan pesanan industri,” ungkapnya. (A-157/das)***

Sumber: pikiran-rakyat.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: